Menu

Sinopsis Rara Anggraeni: Asmaradahana Panjalu-Janggala by Damar Shashangka

  Dibaca : 58 kali
Sinopsis Rara Anggraeni: Asmaradahana Panjalu-Janggala by Damar Shashangka
Rara Anggraeni Asmaradahana Panjalu Janggala, novel sejarah karya Damar Shashangka.

Rara Anggraeni: Asmaradahana Panjalu-Janggala adalah buku novel sejarah karya Damar Shashangka yang berkisah tentang perjalanan cinta segitiga Panji Asmara Bangun atau Kuda Rawisrengga dengan Rara Anggraeni dan Sasi Kirana atau dikenal Dewi Sekartaji.

Panji Asmarabangun adalah putra mahkota Kerajaan Janggala yang beribukota di Kahuripan, yaitu putra Prabhu Sarwesywara atau Prabhu Lembu Amiluhur.

Dewi Sekartaji adalah putri mahkota Kerajaan Panjalu yang beribukota di Daha, yakni putri sulung Prabu Aryesywara atau Prabhu Lembu Amerdadu.

Keduanya dijodohkan atas restu Prabu Jayabhaya, penguasa Kediri (penyatuan atas Panjalu-Janggala) dengan pusat pemerintahan di Daha (Panjalu).

Prabu Jayabaya sendiri adalah kakek dari Panji Asmarabangun dan Sasi Kirana (Dewi Sekartaji), terkadang orang menyebutnya Galuh Candra Kirana. Sebab, Panji Asmarabangun dan Candra Kirana adalah sepupu.

Ayah Rahadyan Kuda Rawisrengga adalah Prabhu Lembu Amiluhur, Raja Janggala, negara bawahan Panjalu yang dipimpin Prabu Jayabaya. Sedangkan ayah Dewi Sekartaji adalah Mapanji Lembu Amerdadu yang menjabat Sang Rake Hino di Kerajaan Panjalu.

Ringkasnya, Prabu Jayabaya punya beberapa anak. Pertama Dewi Pramesthi, ayah Prabu Anglingdarma. Namun, dia tidak mau meneruskan tahta ayahnya.

Akhirnya, tahta akan diserahkan kepada anak kedua, yaitu Mapanji Lembu Amerdadu, ayah Dewi Sekartaji. Sedangkan anak ketiga, Mapanji Lembu Amiluhur mendapatkan tahta di Janggala.

Mapanji Lembu Amiluhur punya keinginan, anaknya kelak bisa menduduki tahta Daha (Panjalu, Kadiri), dengan cara menikahkan dengan Candra Kirana (Dewi Sekartaji), karena dialah sang putri mahkota Daha, yang tak lain sepupunya sendiri.

Namun, di tengah perjalanan, Rahadyan Kuda Rawisrengga jatuh hati kepada Rara Anggaeni, putri Rakryan Kanuruhan Janggala Kudanawarsa, pejabat tertinggi kedua setelah raja di Janggala/Kahuripan.

Cinta ini tentu menjadi polemik dan malapetaka bagi kedua kerajaan antara Panjalu dan Janggala. Sebab, Raden Kuda Rawisrengga tidak akan bisa menduduki tahta Daha jika tidak menikah dengan Sasi Kirana.

Namun, cinta Panji Asmarabangun kepada Rara Anggraeni terlanjur kuat. Dia bahkan rela menikahi Rara Anggraeni dan menjadikannya permaisuri ketimbang Candra Kirana atau Dewi Sekartaji.

Satu-satunya cara untuk menguasai Daha selain jalur pernikahan adalah perang! Itu saran yang diberikan ayah Rara Anggraeni, Rakryan Kanuruhan Janggala Kudanawarsa kepada Panji Asmarabangun.

Dari sini, intrik dan politik Kudanawarsa mulai dimainkan agar anaknya yang posisinya seharusnya hanya selir utama, harus menjadi permaisuri! Agar kelak keturunannya menjadi raja!

Dewi Sekartaji pun mulai dilupakan. Padahal, dia juga secantik dewi yang turun dari kahyangan, putri mahkota sang permata Kerajaan Daha! Namun ternyata Rara Anggraeni juga tak kalah cantiknya, sehingga berhasil memikat Rahadyan Kuda Rawisrengga alias Panji Asmarabangun.

Padahal, menurut kisah para leluhur, Panji Asmarabangun tak lain penjelmaan dari Dewa Kamawijaya yang sudah seharusnya menikah dengan Dewi Sekartaji yang merupakan penjelmaan dari Dewi Kamaratih.

Kisah selanjutnya akan dibahas berberita.com dalam cerita khusus dengan rubrik “Panji Asmoro Bangun-Dewi Sekartaji” yang ceritanya melegenda di Tanah Nusantara itu.

Kisah cinta keduanya begitu populer dipentaskan dalam sendratari, seni ketoprak hingga wayang hingga sekarang. Keduanya adalah cucu dari Prabu Joyoboyo yang terkenal itu, keturunan Prabu Airlangga yang sejarahnya tersohor itu.

Kelak, Panji Asmarabangun berhasil menjadi Raja Kediri (istilah lain dari Kerajaan Panjalu yang beribukota di Daha) dan menikah dengan Dewi Sekartaji, permata Daha yang kecantikannya bagai dewi yang turun dari kahyangan.

Konon, Panji Asmoro Bangun adalah awatara (jelmaan/manifestasi) dari Dewa Kamawijaya (Dewa Asmara) yang turun ke bumi untuk menjalankan karma, karena mengganggu tapa brata Siwa Mahadewa.

Bukan karena salah, tetapi kondisi negeri para dewa yang gonjang akibat ulah Prabu Nilarudraka, bangsa raksasa atau asura. Dia tidak bisa kalah dengan siapapun, termasuk para dewa sendiri.

Raja Dewa, Bathara Indra pun tak sanggup melawannya, termasuk Dewa Brahma dan Wisnu sendiri. Hanya Siwa Mahadewa yang sanggup mengalahkannya!

Sayangnya, Dewa Siwa tengah bertapa sehingga harus dibangunkan. Jika tidak, alam semesta akan terganggu! Hanya Bathara Sanghyang Kamawijaya yang sanggup membangunkannya!

Saat Dewa Siwa terbangun, kekuatan api dari mata ketiganya atau Siwagni memancar hingga meleburkan Dewa Kamawijaya. Untuk hidup sebagai dewa kembali, dia harus menjalani karma di dunia sebagai Panji Asmoro Bangun, putra mahkota Kerajaan Janggala. (*)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!