Menu

Duta Pencegahan Stunting untuk Generasi Indonesia Sehat

  Dibaca : 188 kali
Duta Pencegahan Stunting untuk Generasi Indonesia Sehat
Presiden Jokowi meminta agar jangan sampai anak Indonesia stunting. Foto: sehatnegeriku.kemkes.go.id

Pencegahan stunting itu penting untuk masa depan generasi Indonesia sehat dan hebat. Demikian yang disampaikan Presiden Joko Widodo bersama Menteri Kesehatan RI Nila Farid Moeloek dalam kunjungannya di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Saat ini, pemerintah memang menaruh perhatian yang besar terhadap kesehatan masyarakat, terutama masalah gangguan tumbuh kembang atau stunting. Sebab, gangguan stunting tidak hanya mengganggu pertumbuhan fisik saja, tetapi juga perkembangan otak.

Jika hal itu dibiarkan, kreativitas anak di usia produktif akan terganggu. Ujungnya, masalah stunting akan menghambat kemampuan dan prestasi anak di sekolah.

Dalam skala yang lebih luas, masalah stunting dapat mengancam kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Padahal, SDM merupakan faktor penting dalam membangun bangsa Indonesia menuju sebuah perubahan yang lebih baik.

Karena itu, pembangunan kesehatan menjadi salah satu agenda penting dalam upaya memajukan bangsa secara berkelanjutan. Sebagaimana kata bijak mengatakan, kesehatan merupakan modal bagi kemajuan bangsa.

Maka, tidak heran jika Presiden Joko Widodo bersama Menteri Kesehatan RI Nila Farid Moeloek menjadikan kesehatan bangsa sebagai prioritas utama. Pasalnya, masalah kesehatan dapat memengaruhi agenda pembangunan di berbagai bidang secara masif.

Cegah Stunting itu Penting untuk Generasi Indonesia yang Sehat dan Cerdas

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko dan Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek kampanye pencegahan stunting. Foto: sehatnegeriku.kemkes.go.id

Dikutip dari laman sehatnegeriku.kemkes.go.id, ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam upaya pencegahan stunting, yakni perbaikan pola makan, pola asuh, serta perbaikan sanitasi dan akses air bersih. Ketiga hal tersebut harus diperhatikan oleh calon ibu, ibu hamil, serta ibu bayi dan balita.

Sebab, mereka yang berada di garda depan dalam mengawal pencegahan stunting sejak ini. Mereka ini bisa disebut sebagai “duta” pencegahan stunting. Karenanya, penyuluhan atau konseling kepada calon ibu, ibu hamil, serta ibu bayi dan balita sangat penting dilakukan.

Untuk pola makan, akses terhadap kualitas gizi harus diperhatikan. Menkes RI Nila Farid Moeloek menyarankan, satu porsi makan setidaknya mengandung protein yang lebih banyak dari karbohidrat, serta sayur dan buah.

Terkait pola asuh, ibu mesti memperhatikan pemberian makan pada bayi dan balita. Pada saat bayi lahir harus dimulai dengan Inisiasi menyusu dini (IMD), kemudian direkomendasikan dengan pemberian ASI eksklusif hingga bayi berusia enam bulan. Bila perlu, pemberian ASI kepada bayi dilakukan sampai usia dua tahun.

Pada 30 menit pertama setelah bayi lahir, IMD merupakan langkah yang harus segera dilakukan dengan cara meletakkan bayi di atas perut ibu. Proses ini membuat bayi mencari puting ibu secara alami, sehingga merangsang keluarnya ASI untuk pertama kalinya.

ASI pada IMD memberikan nutrisi terbaik yang dibutuhkan bayi pada awal kehidupan untuk membentuk sel-sel otak. Bayi yang mendapatkan cukup ASI akan tumbuh menjadi anak yang sehat dan mengurangi risiko stunting.

Tentu, pemantauan terhadap tumbuh kembang balita juga harus diperhatikan. Salah satunya, pengecekan buah hati di Posyandu setiap sebulan sekali, hingga imunisasi di Posyandu atau Puskesmas. Jangan khawatir soal biaya, karena pemerintah sudah menjamin ketersediaan dan keamanan imunisasi secara gratis.

Sementara sanitasi dan akses air bersih dapat mencegah atau mengurangi risiko ancaman penyakit infeksi pada anak. Cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, serta tidak buang air besar sembarangan merupakan kebiasaan penting untuk mencegah stunting secara preventif.

Pembentukan Duta Pencegahan Stunting untuk Indonesia Sehat

Pembentukan “Duta Antistunting” untuk Indonesia Sehat di Madrasah I’anatut Tholibin, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah.

Duta antistunting
Ada beragam cara yang bisa dilakukan untuk mencegah stunting. Di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Dinas Kesehatan setempat membuat terobosan dalam upaya mencegah stunting, yakni dengan membentuk duta antistunting.

Duta antistunting dipilih dari calon ibu yang masih remaja dan duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA). Sekolah pun dipilih sebagai institusi pendidikan yang efektif dalam membentuk duta antistunting.

Di Madrasah I’anatut Thalibin, Margoyoso, Pati, misalnya. Para siswi Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Aliyah (MA) dijadikan sebagai duta antistunting. Sebelumnya, mereka diberikan penyuluhan dan konseling tentang pentingnya pencegahan stunting untuk generasi Indonesia sehat dan hebat.

Bahkan untuk mencegah anemia, mereka juga mengikuti Gerakan Rabu (Gerab) Sehat dengan minum tablet tambah darah. Gerab Sehat merupakan gerakan yang dicanangkan Dinas Kesehatan Kabupaten Pati yang diprioritaskan untuk kesehatan remaja putri. Sebagai calon ibu, para siswi diberikan pemahaman tentang pentingnya minum tablet tambah darah dan makanan bergizi untuk mencegah anemia selama hamil.

Maufahtun Cholifah, salah satu guru Madrasah I’anatut Thalibin mengatakan, ada lebih dari seratus siswi yang dilibatkan sebagai duta antistunting. Tujuannya, para siswi sebagai calon ibu punya bekal yang cukup, sehingga bayi yang dilahirkan nanti dalam kondisi yang normal, sehat dan tidak stunting.

Selain itu, duta antistunting akan menyebarkan informasi tentang pentingnya pencegahan stunting kepada siswi lain sebagai calon ibu, ibu hamil, serta ibu bayi dan balita di desa-desa. Dalam hal ini, duta antistunting tetap berkoordinasi dengan petugas puskesmas dan kader kesehatan setempat.

Menurut Cholifah, keberadaan duta antistunting di lingkungan sekolah sangat penting untuk mendukung pembangunan kesehatan yang dicanangkan pemerintah. Para siswi yang sebelumnya masih abai terhadap masalah kesehatan, kini bisa sadar akan pentingnya kesehatan.

Hal yang sama disampaikan dr. Pamuji Joko Widodo, Kepala Puskesmas Margoyoso I Pati. Menurut dia, agenda pembentukan duta antistunting yang mulai dicanangkan pemerintah, cukup efektif dalam rangka pencegahan stunting sejak dini.

Melalui gerakan tersebut, para siswi dan masyarakat dapat berperan aktif bersama pemerintah dalam rangka mengurangi risiko masalah stunting. Terlebih, masalah stunting di Kabupaten Pati saat ini mencapai 29 persen. Untuk itu, pemerintah setempat bertekad akan menurunkan angka stunting di Pati minimal 28 persen pada 2019.

Joko menambahkan, siswi tingkat SMP dan SMA dipilih sebagai duta antistunting karena usianya masih produktif. Mereka juga merupakan calon ibu yang sudah seharusnya mendapatkan pemahaman tentang pentingnya pencegahan stunting sejak dini.

Gerakan Rabu Sehat
Setiap sepekan sekali, Dinas Kesehatan Kabupaten Pati biasa menggelar Gerakan Rabu (Gerab) Sehat yang dilakukan di sekolah-sekolah. Gerab menjadi cara bagi pemerintah untuk melakukan sosialisasi kepada remaja putri akan pentingnya hidup sehat.

Saat ini, Gerab juga dimanfaatkan untuk membentuk duta antistunting di sekolah. Meski gebrakan tersebut dilakukan dalam skala pemerintah daerah, tetapi Gerab diharapkan ikut menyumbang turunnya angka stunting.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 yang dilakukan Kemkes RI, Indonesia merupakan salah satu negara dengan prevalensi stunting yang cukup tinggi, yakni 37 persen. Bahkan, Indonesia masuk dalam kategori negara dengan prevalensi stunting kelima di dunia.

Atas riset tersebut, pemerintah menetapkan seratus kabupaten atau kota prioritas untuk intervensi stunting. Sebagai daerah pesisir, Kabupaten Pati berupaya merespons masalah tersebut dengan berbagai gerakan. Dan Gerab menjadi salah satu upaya untuk mendorong percepatan pembangunan kesehatan, termasuk pencegahan masalah stunting.

Cegah Stunting itu Penting Community Feeding Center CFC

Kegiatan kelas memasak makanan bergizi dalam Community Feeding Center (CFC) di Polindes Pakis, Tayu, Pati, Jawa Tengah.

Community Feeding Center
Community Feeding Center (CFC) merupakan pos pemulihan gizi sebagai upaya untuk memantau dan merawat balita. Di Kabupaten Pati, CFC yang bertujuan untuk menangani gizi buruk pada balita juga dimanfaatkan sebagai gerakan melawan stunting.

Salah satunya Pondok Bersalin Desa (Polindes) Pakis, Kecamatan Tayu, Pati yang biasa melaksanakan kegiatan CFC. Sejumlah kegiatan yang dilakukan, antara lain pengukuran tinggi badan, penimbangan berat badan, pemantauan gizi, pemberian makanan tambahan, kelas memasak (cooking class) makanan bergizi, hingga konseling pencegahan stunting.

Ketua CFC Desa Pakis, Rubiyanti mengaku, kegiatan CFC telah menarik animo masyarakat. Kegiatan yang diprioritaskan untuk warga kurang mampu dari kalangan ibu balita dan ibu hamil tersebut, terbukti efektif dalam meningkatkan status gizi supaya tidak terjadi stunting.

Di wilayah pedesaan, kata Rubiyanti, banyak anggapan yang keliru soal stunting. Sebagian warga desa menganggap stunting merupakan faktor keturunan atau genetik. Namun melalui CFC, mereka tahu bila stunting dapat dicegah sejak dini.

Stunting memang menjadi masalah yang cukup serius bagi bangsa. Pasalnya, stunting dapat memengaruhi tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan dan produktivitas seseorang di masa depan. Karenanya, Indonesia butuh duta-duta antistunting untuk generasi sehat yang mampu menjawab tantangan zaman. (*)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!