Menguak Sejarah & Asal usul Candi Muara Takus dari Sisi Mistis

KAMPAR, Berberita.com - Candi Muara Takus adalah salah satu tempat wisata yang terletak di Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Banyak yang bertanya-tanya: bagaimana sejarah singkat, asal-usul, pendiri, fungsi dan peninggalan dari kerajaan apa? Bercorak apa?

Menurut catatan sejarah, Candi Muara Takus bercorak Buddha sebagai peninggalan dari Kerajaan Sriwijaya. Namun, ada pula yang menyebut candi ini bercorak Hindu yang dibawa dari India. Ada sejumlah bangunan candi utama di situs peninggalan purbakala ini, yaitu Candi Sulung (Tua), Candi Bungsu, Palangka, dan Mahligai Stupa.

Candi Muara Takus Temple Kampar Riau
Muara Takus, The oldest temple in Southeast Asia. Foto: wisatapriangan.co.id

Kapan Candi Muara Takus didirikan? Masih belum diketahui secara pasti tentang kapan berdirinya bangunan tersebut. Namun, para pakar purbakala memperkirakan candi yang dicalonkan menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO itu dibangun pada abad ke-4, ke-7, ke-9, bahkan ada yang bilang abad ke-11.

Ali Husein, makhluk sebangsa jin yang diwawancara dalam acara Dua Dunia Trans 7, menyebut, Candi Muara Takus adalah benteng penyebaran agama Hindu-Buddha yang berbatasan dengan Sumatera Utara, didirikan pada zaman Sriwijaya sekitar 50 tahun Sebelum Masehi (SM). Fungsi Candi Muara Takus adalah untuk menyebarkan agama Hindu.

Yang lebih mengejutkan, seperti cerita legenda Candi Prambanan, Candi Muara Takus disebut-sebut Jin Ali Husein dibangun dengan bantuan makhluk halus. Begitu juga makhluk gaib bernama Ali Hasan yang mengatakan bahwa tempat ini dibangun dengan bantuan bangsa gaib, kemudian disusun.

"Lho, bangsa gaib kan alamnya berbeda? Kenapa bisa ikut mendirikan candi ini?" tanya Ratna Listy, presenter acara Dua Dunia Trans TV.

"Tanah di sini bagus. Itu kekuasaan Allah. Kalau Allah bilang, Kun. maka, terjadilah," kata Ali Hasan. Wah, mirip sekali pada zaman Nabi Sulaiman membangun kerajaannya, ya guys!

Kisah mistis
Candi Muara Takus adalah satu di antara tempat wisata di Riau yang wajib dikunjungi. Ada banyak cerita mistis yang berkembang di sini. Mitos dan legendanya tersebar di kalangan penduduk setempat.

Ada yang menyebut, candi tertua di Asia Tenggara ini dipercaya awal dari peradaban di Pulau Sumatera. Agama Islam masuk ke Sumatera juga dipercaya dari tempat ini.

Ada cerita mistis beredar, sekumpulan gajah datang untuk menyembah di candi ini pada saat bulan purnama. Cerita itu kemudian membuat warga berdatangan untuk meminta berkah dan kekayaan. Dalam Jawa, kekayaan biasa disebut dengan pesugihan.

Ada pula kisah yang menceritakan bahwa ada penampakan seorang putri kerajaan di candi ini. Ada pula makhluk bertubuh besar hitam sebagai penunggu Candi Muara Takus.

Saat mediumisasi, muncul sosok harimau yang marah-marah. Dia mengatakan, manusia banyak yang bodoh karena mencari keberuntungan dan kekayaan di sini. Mereka biasanya membawa sesaji. Sesaji itulah yang menurut makhluk halus berwujud harimau itu dimakan makhluk halus di tempat itu.

"Ini tempat mesum. Banyak yang datang ke sini berbuat tidak baik. Dulu, sebelum candi ini adalah pasar. Mereka yang suka berkata-kata kotor, menghina-hina, tidak sopan akan saya ganggu dengan kesurupan," ujar sosok makhluk raksasa, tinggi besar hitam penunggu Candi Muara Takus.

Kemudian ada makhluk gaib bernama Syekh Aminudin. Dia mengaku dulu berdagang di tempat ini. Candi ini disebut dia sebagai peninggalan Kerajaan Sriwijaya.

"Saya datang ke sini untuk berdagang dan menyebarkan agama Islam. Tapi, pihak kerajaan tidak suka dan menentang. Saya sebarkan agama Islam perorangan. Sayangnya, tempat ini sudah kotor. Banyak orang mencari berkah, kekayaan, peruntungan di sini. Air di dalam candi itu tidak ada khasiatnya. Itu bodohnya manusia. Yang berkhasiat bukan airnya, tetapi atas izin Allah," kata makhluk gaib bernama Syekh Aminudin dalam mediumisasi yang dilakukan Tim Dua Dunia.

Bangsa halus bernama Ali Hasan kemudian berkata: "Pendiri Candi Muara Takus adalah tiga pedagang dari India. Dulu, sekumpulan gajah datang ke sini untuk bersujud pada bulan purnama. Pemilik gajah adalah Raja Sriwijaya, bukan peliharaan tiga pedagang pendiri candi. Sujud karena patuh kepada raja, menyembah kepada tuan mereka," kata Ali.

"Ada satu gajah putih adalah pemimpin mereka, membawa anggotanya datang ke sini untuk bersujud kepada tuan mereka. Sriwijaya ingin merebut tempat ini, karena tempatnya tenang dan damai. Sayangnya, sekarang ini banyak digunakan untuk tempat maksiat," imbuh Ali.

Jin Muslim ini kemudian berpesan: "Mintalah segala sesuatu kepada Allah yang maha adil dan memberi rezeki. Apa gunanya kaya di dunia, tapi sengsara di neraka," pesan Jin Muslim tersebut.

Fungsi Candi Muara Takus
Candi Muara Takus bercorak Buddha peninggalan dari Kerajaan Sriwijaya berfungsi untuk menjalankan upacara ritual yang biasanya dilakukan pedagang atau pelaku ekonomi. Mereka mengenal bangunan candi sebagai tempat suci untuk beribadah sehingga diyakini mengandung unsur magis, sehingga fungsinya sebagai perkembangan ekonomi, sosial, termasuk perdagangan.

Catatan: Sejarah singkat, asal-usul dan cerita tentang Candi Muara Takus yang terletak di Provinsi Riau ini diadopsi dari Wikipedia dan tayangan Dua Dunia Trans TV, sehingga tidak bisa menjadi sumber referensi atau literatur yang valid.

Para pakar arkeologi pun masih berdebat dengan sejarah peninggalan dari zaman Kerajaan Sriwijaya bercorak Buddha tersebut. Yang jelas, kompeks candi ini memiliki daya tarik untuk dikunjungi sebagai objek wisata, mahakarya peninggalan warisan budaya leluhur Nusantara. (*)

0 Response to "Menguak Sejarah & Asal usul Candi Muara Takus dari Sisi Mistis"

Poskan Komentar