Hikmah dari Cerita & Kisah Mahabharata sebagai Pelajaran Hidup

Berberita.com - Mahabharata adalah kitab sastra kuno yang berisi cerita dan kisah tentang konflik Pandawa dan Kurawa, dua kelompok yang menentukan masa depan dunia ditulis oleh Begawan Wyasa. Ada banyak hikmah dari kisah Mahabharata yang bisa dipetik sebagai pelajaran hidup.

Jika Anda menonton film atau sinetron Mahabharata yang dulu ditayangkan di ANTV, setidaknya kisahnya mirip dengan buku atau novel Mahabharata sebuah roman epik pencerah jiwa manusia yang ditulis C. Rajagopalachari.

Dari cerita yang dituliskan dalam buku tersebut, banyak pelajaran hidup yang bisa dipetik, mulai dari intrik dan politik di kalangan istana kerajaan yang bisa menjadi inspirasi bagi politisi, keperwiraan yang bisa dipetik oleh para tentara / TNI dan para jenderal, kebijaksaan memimpin Yudhistira yang bisa ditiru bupati, gubernur atau presiden, dan masih banyak lagi lainnya.

Hikmah dari Cerita Kisah Mahabharata sebagai Pelajaran Hidup

Ada banyak karakter dan perilaku manusia yang digambarkan di sana lengkap dengan nasehat-nasehat dari golongan agamawan, resi, dan para tetua kerajaan. Misalnya tentang perilaku baik dan buruk, persahabatan dan permusuhan, kasih sayang dan kebencian, kesetiaan dan pengkhianatan, dan beragam filosofi kehidupan antara yang hitam dan yang putih lainnya.

Sejarah perang saudara dari keturunan orang besar seringkali dijumpai dalam berbagai kisah dan kehidupan nyata. Hal itu yang juga menjadi konflik utama dari cerita Mahabharata, konflik dari dua saudara keturunan bangsa Kuru, sebuah rezim dengan kerajaan tersohor di dunia.

Konflik bermula, ketika Duryudana, putra sulung Drestarasta mulai khawatir jika Yudhistira dan empat saudaranya, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa akan mengambil tahta kerajaan setelah Drestarasta lengser keprabon dari kursi kekuasaannya.

Karena itu, dia bersama 99 saudaranya yang disebut Kurawa berupaya mengusir para Pandawa beserta ibunya, Dewi Kunti dan istrinya, Drupadi dari istana Hastinapura. Dimulailah permainan dadu sebagai siasat Duryudana, Karna, dan Sengkuni untuk mengusir para pandawa dari istana kerajaan.

Benar saja, semua harta, kekayaan dan warisan Yudhistira kalah dipertaruhkan di meja dadu. Pandawa kehilangan kerajaannya, bahkan harus mengasingkan diri selama 13 tahun dan tidak boleh diketahui siapapun. Bila penyamaran diketahui, maka dia akan mengulangi penyamarannya lagi.

Para pandawa yang terhormat, pewaris sah dari kerajaan yang semula dipimpin ayahnya, Pandu harus menjalani penderitaan yang tiada tara. Percobaan pembunuhan kepada mereka juga seringkali dilakukan para Kurawa, tetapi gagal. Semua demi keserakahan, ketamakan dan iri hatinya yang luar biasa.

Demi kebajikan, kebenaran dan dharma, pandawa ikhlas menjalani penderitaan akibat saudara-saudara sepupunya sendiri bernama Kurawa itu. Setelah pengasingan selesai, mereka menuntut hak atas segala sesuatu yang dirampas Kurawa secara licik dan penuh dengan tipu muslihat.

Namun, Duryudaha sesumbar: "Tidak sejengkal tanah pun kami berikan kepada Pandawa." Kalimat ini yang akhirnya menghentikan upaya mediasi, perdamaian dan memutuskan untuk perang demi menegakkan dharma.

Perang baratayuda pun berlangsung. Pada zaman modern, perang di medan kurukshetra ini seperti perang dunia yang melibatkan negara-negara di sekitarnya turut menentukan pilihan, apakah ikut kubu Pandawa atau Kurawa.

Mirip dengan isu mencuatnya perang dunia ketiga (3) antara Rusia Vs Amerika Serikat, banyak negara-negara yang merapat ke kubu salah satu pihak dan membentuk sekutu. Parang Baratayuda juga mengerahkan teknologi perang paling canggih dan mutakhir pada zamannya, seperti senjata Brahmastra milik Aswatama dan Arjuna yang akan dilancarkan pada babak penentuan perang.

Brahmastra adalah senjata ciptaan Dewa Brahma yang memiliki kekuatan hulu ledak seperti nuklir, menyebabkan kematian massal, ledakan cahayanya menyilaukan mata, dan radiasinya mengakibatkan tanah begitu tandus, kering, rusak, dan mempengaruhi cuaca hingga curah hujan pun minim akibat ledakan Brahmastra yang tak lain senjata nuklir dalam ilmu pengetahuan perang modern.

Akibat perang besar tersebut, ribuan ribu prajurit tewas, para raja, pangeran, senopati dan para kesatria juga banyak yang mati. Kehancuran massal itu disebabkan satu orang saja, yaitu Duryudana dengan segala keburukan sifatnya sebagai putra mahkota raja. Kedengkian, iri hati, ketamakan, kerakusannya membuat bencana massal.

Hikmah dari cerita dan kisah Mahabharata yang bisa dipetik sebagai pelajaran hidup adalah betapa pun beratnya ujian menjalankan kebaikan, kebajikan, kebenaran dan dharma, suatu saat akan memetik buah manisnya meski harus mempertaruhkan nyawa.

Sebaliknya, sifat keangkuhan, kerakusan, ketamakan, iri dengki, jahat, menghalalkan segala cara demi ambisinya dengan politik busuk nan keji, maka suatu ketika akan menemui kehancuran. Maka, dalam setiap hidup kita, mari kita mengabdikan diri dan hidup ini untuk berbuat kebaikan dan kebenaran.

Demi berperang melawan kejahatan dan angkara murka, terkadang kita harus merelakan dan ikhlas melawan saudara sendiri, teman sendiri, dan orang-orang yang sebetulnya kita kasihi. Keikhlasan itu didasarkan pada dharma, bakti kita kepada kebenaran yang menjadi ajaran Tuhan yang Maha Esa.

Namun, cerita Mahabharata mengajarkan kepada kita untuk mengutamakan jalur mediasi, perdamaian. Sebab, perdamaian adalah di atas segalanya. Ketika perdamaian itu buntu dan kita tahu kalau kita mengalah akan ada orang yang berbuat kehancuran dan kejahatan, maka kita wajib angkat senjata melawan angkara murka demi kebaikan, kebenaran dan perdamaian.

Dalam Islam, seorang yang mati dalam keadaan perang akan masuk surga karena mati syahid. Begitu juga kata Sri Krishna dalam Kitab Bhagavad Gita, seorang yang meninggal karena berperang akan naik planet surga.

Namun, lagi-lagi perang itu harus dilandasi pada niat kebenaran, kebajikan, dan demi perdamaian. Meski harus berhadapan saudara sendiri, terkadang mau tidak mau kita harus rela demi menegakkan dharma. Arjuna yang tidak tega dengan peperangan melawan saudaranya, Kurawa, kakeknya Bhisma, gurunya, Drona, diberi nasehat dan petunjuk oleh Sri Krishna yang menampakkan dirinya sebagai pribadi Tuhan yang Maha Esa.

0 Response to "Hikmah dari Cerita & Kisah Mahabharata sebagai Pelajaran Hidup"

Poskan Komentar