Sejarah Ilmu Ajian Pancasona, Arti dan Asal-usulnya

Berberita.com - Ajian Pancasona adalah ilmu yang membuat seorang yang meninggal dunia bisa hidup kembali, selama tubuhnya terpapar angin. Karena itu, ilmu sakti ini susah untuk dikalahkan meski dengan ajian rengkah gunung sekalipun. Berikut sejarah, asal-usul, maksud, dan artinya.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), pancasona (kata benda) adalah mantra yang menyebabkan seseorang yang telah mati bisa hidup kembali. Dengan masuknya kata pancasona dalam kamus KBBI, maksudnya ilmu ini memang benar-benar ada di Indonesia, bukan mitos, legenda, cerita rakyat atau isapan jempol belaka.

Dari sisi kekuatannya, ilmu pancasona mirip dengan ajian rawa rontek di mana pemilik ilmu tersebut tidak akan mati selama jasad tubuhnya yang meninggal terkena tanah. Kedua ilmu ini sangat eksis pada zaman Kerajaan Malwapati yang dipimpin Prabu Angling Dharma, bersamaan dengan resahnya kalangan pendekar untuk menandingi ajian sakti mandraguna rengkah gunung.

ilmu ajian pancasona

Sejarah asal-usul pancasona
Pada zaman dahulu kala, ada seorang resi setengah manusia dan setengah kera. Namanya adalah Resi Subali. Resi inilah yang memiliki ajian pancasona.

Ilmu itu kemudian diberikan kepada Raja Rahwana atau Prabu Dasamuka. Namun, ajian pancasona kemudian disalahgunakakan Dosomuko untuk kejahatan.

Dia menjadi tidak bisa dibunuh, tidak bisa dikalahkan. Padahal, ilmu kesaktian apapun semestinya digunakan untuk kebaikan. Sebagai hukuman, Rahwana kemudian mendapatkan hukuman pahit dari dewa.

Tubuhnya dipasung dan dijepit dua gunung besar hingga ribuan tahun lamanya. Sejak peristiwa itu, tidak ada lagi orang yang memiliki ajian panca sona. Hingga suatu ketika pada zaman Prabu Angling Dharma pada sekitar tahun 1.100 an Masehi, hiduplah kisah tentang Durgandhini dan Sudawirat yang secara sewenang-wenang menggunakan ilmu rengka gunung untuk kejahatan.

Salah satu korbannya adalah Maha Sura dan anaknya, Galuh. Sudawati, istri Maha Sura tidak terima suami dan anaknya dibunuh dengan ajian rengkah gunung hingga tewas secara mengenaskan.

Sudawati kemudian bertapa, tidak makan tidak minum hingga ditemui dengan Bathara Wisnu yang dipanggil dengan nama Romo Pangeran. Sudawati meminta petunjuk untuk mengalahkan ajian rengkah gunung.

Namun, Romo Pangeran mengatakan bila rengka gunung hanya bisa dikalahkan rengka gunung dan ilmu itu tidak diberikan lagi kepada siapapun. Tapi, ada satu ajian yang bisa menandinginya, yaitu pancasona.

Sudawati kemudian melanjutkan bertapa, dijemput dua malaikat dan diantarkan kepada Resi Subali di alam gaib. Sukma Sudawati diajak terbang. Setelah berjanji tidak akan menggunakan untuk kejahatan dan menjadi seorang pertapa setelah mengalahkan Durgandhini, Sudawati akhirnya mendapatkan ajian pancasona.

Terbukti, ketika Sudawati bertarung dengan Durgandini dan Sudawirat, dia bisa hidup kembali setelah terkena dua kali ajian rengkah gunung. Selain bisa hidup lagi, ilmu ini ternyata bisa memperkuat silat atau daya tarung seseorang.

Sejumlah kalangan spiritual menyebut, ajian pancasona berasal dari Prabu Angling Dharma. Namun, sejarah dan asal mula ilmu tersebut masih simpang siur sehingga fakta kebenarannya masih dipertanyakan.

Seiring perkembangan zaman modern sekarang ini, banyak orang kemudian mencoba untuk belajar ilmu pancasona melalui pengambilan mustika benda gaib, hingga menjalani ritual puasa maupun tanpa puasa.

Anehnya, banyak orang zaman sekarang yang mencari amalan atau mantra ilmu pancasona menurut Islam untuk belajar. Padahal, dalam pandangan Islam, baik Al Quran maupun hadits sama sekali tidak ditemukan ada ilmu semacam itu.

Malah ada lagi yang mengaitkan ajian pancasona dengan Kanjeng Sunan Kalijaga. Tidak tahu apakah dulu Sunan Kalijaga punya ilmu ini atau tidak, tetapi data literasi menunjukkan tidak ada kaitannya ajian pancasona dan Sunan Kalijaga.

2 Responses to "Sejarah Ilmu Ajian Pancasona, Arti dan Asal-usulnya"