Sejarah Ajian Rengkah Gunung dan Cara Menggunakannya

Berberita.com - Bicara soal sejarah dan asal-usul ilmu ajian rengkah gunung, kita tidak akan lepas tokoh bernama Sudawirat pada zaman Prabu Angling Dharma. Asma untuk mengaluarkan ajian rengka gunung sudah ditulis di berbagai media.

Namun, keabsahan asma itu belum tentu bisa diamalkan tanpa adanya guru atau mufti yang menunjukkan arah, jalan yang tepat. Sebab, ajian rengkah gunung sangat berbahaya, bisa membunuh dan mematikan manusia dengan luka bakar dalam yang sangat parah.

Seorang manusia yang terkena ajian rengka gunung biasanya melepuh pada bagian kulit, dada mengalami luka dalam yang sangat parah hingga gosong, dan mati dalam seketika. Untuk bangsa jin, karena makhluk gaib, biasanya hancur tapi tidak mati, namun langsung mengaku kalah.

Ilmu rengka gunung adalah ajian warisan leluhur Nusantara yang sangat berbahaya. Itu sebabnya, asma rengkah gunung sangat dirahasiakan, hanya untuk orang-orang baik. Kalau tidak, keberadaan ilmu itu bisa membahayakan.

ajian rengkah gunung sudawirat angling dharma

Coba Anda bayangkan, seseorang bisa dibunuh dengan ajian rengka gunung tanpa harus menyentuh sehingga tidak diketahui siapa pelakunya. Tidak ada barang buktinya, dan dianggap polisi tidak masuk akal. Jika ilmu itu bisa dimiliki setiap orang, tentu kasus pembunuhan kriminal yang menggunakan ajian itu bisa menggunakan sembarangan.

Asal usul ajian rengkah gunung sebagaimana dikutip berberita.com dari sinetron Angling Dharma yang diproduksi Genta Buana Paramita (waktu itu tayang di Indosiar), ilmu ini berasal dari tokoh antagonis bernama Durgandhini yang kemudian diwariskan kepada pendekar muda bernama Sudawirat.

Ajian rengkah gunung digunakan Sudawirat untuk menghancurkan lawannya. Kala itu, Sudawirat adalah pengikut Durgandhini yang merupakan musuh dari Prabu Angling Dharma, Raja dari Kerajaan Malwapati.

Banyak dari pendekar tangguh dan hebat yang menjadi korban keganasan ajian rengkah gunung. Namun tidak pada Sang Prabu. Dia bisa mengalahkan ilmu sakti milik Sudawirat dengan ilmu rogoh sukmo, artinya sukma keluar dan menangkal sukma Sudawirat saat berlari menuju tubuh lawan untuk melancarkan ajiannya.

Dalam film tersebut, Rengka Gunung sebetulnya berasal dari Dewa Wisnu yang disebut Nyi Dewi sebagai Romo Pangeran. Namun, ilmu jahat itu tidak lagi diturunkan kepada siapapun, termasuk kepada Maha Sura atau muridnya, Suliwa. Ilmu rengkah gunung hanya bisa dilawan dengan rengkah gunung pula. Namun, Romo Pangeran akhirnya memberi tahu bila ada penangkal dari ajian jahat tersebut, yaitu Aji Pancasona.

Sejumlah kalangan spiritual mengatakan, sejarah ajian rengkah gunung berasal dari Prabu Angling Dharma. Hanya saja, ilmu itu tidak pernah digunakan untuk mengalahkan musuh, tetapi digunakan untuk menghancurkan bangsa jin, makhluk lelembut yang jahat.

Jika benar asal mula ajian rengka gunung dari Prabu Angling Dharma, maka ilmu itu kemungkinan berasal dari Naga Raja / Nogo Rojo atau Genta Buana Paraminta menyebutnya Naga Bergola. Namun sekali lagi, sejarah ini masih simpang siur. Belum lagi, Sang Prabu sendiri adalah titisan dari Bathara Wisnu, sehingga bisa jadi berasal dari dirinya sendiri.

Arti rengkah gunung
Ajian rengkah gunung berasal dari bahasa Jawa. Rengkah artinya adalah retak, remuk, atau dalam klasifikasi yang lebih luas bisa dimaknai terbelah.

Gunung berarti tanah yang menjulang tinggi disebut juga gunung. Dilihat dari aspek bahasa, ajian rengkah gunung bisa berarti meretakkan gunung. Jika gunung saja bisa retak akibat pukulan ajian ini, bagaimana kalau dihantamkan kepada orang? Tentu langsung tewas, kecuali punya kanuragan lebih.

Cara menggunakan rengkah gunung
Seseorang yang memiliki ajian rengkah gunung biasanya mengambil jarak dari target sasaran musuh. Dia mengambil ancang-acang, mengatur nafas, dan menghentakkan tangan di tanah.

Dalam waktu sekejap, sukma (bukan arwah atau roh) akan keluar menuju target sasaran. Telapak tangan sukma kemudian dipukulkan pada dada target atau musuh.

Seketika, musuh langsung meledak, luka dalam, keluar darah matang, dan gosong. Namun, sejumlah kalangan supranatural mengatakan, ajian rengkah gunung yang dikerahkan tidak membuat target meledak, tetapi tiba-tiba roboh, diam dan kaku, mengalami luka dalam yang hebat, remuk njero (dalam).

Jika target adalah makhluk gaib sebangsa jin, maka dia seolah-olah dikejar gulungan api hingga kemanapun. Hal itu yang membuat jin pun ketakutan dengan ilmu sakti rengka gunung.

Namun, kalangan spiritual juga mengatakan, untuk jin pun, yang keluar juga sukma, tetapi jin tidak menyadari hingga terkena pukulan kemudian jatuh, kaku, dan mengalami luka dalam. Di situ, jin akan mengaku kalah.

Ajian rengkah gunung tidak mempan untuk seseorang yang memiliki ilmu aji rawa rontek atau pancasona. Sebab, pemilik ilmu rawa rontek tidak akan mati selama jasad atau tubuh yang mati mengenai tanah. Sedangkan pemilik ilmu pancasona tidak bakal mati selama jasad terkena udara.

Itulah artikel lengkap tentang sejarah, asal-usul ajian rengkah gunung dan cara menggunakannya. Diperkirakan, ilmu ini eksis pada zaman pemerintahan Prabu Angling Dharma di Bumi Jawa pada tahun 1.100-an Masehi di mana Islam belum eksis di Tanah Jawa.

0 Response to "Sejarah Ajian Rengkah Gunung dan Cara Menggunakannya"

Poskan Komentar