Kisah Pertarungan Panembahan Senopati vs Joko Tingkir Terungkap

Pertarungan Panembahan Senopati (Raden Danang Sutawijaya) vs Joko Tingkir (Sultan Hadiwijaya) secara individu atau duel belum pernah disebutkan dalam kisah babad atau sejarah. Hanya saja, pertempuran keduanya tercatat pada sejarah perang Kerajaan Pajang (Hadiwijoyo) dan Kerajaan Mataram (Sutowijoyo).

Namun, ada beragam versi cerita pertarungan kedua tokoh raja ini. Di Babad Tanah Jawi, misalnya. Dalam buku yang lebih ke Mataram-sentris ini menceritakan pasukan Kerajaan Pajang berhasil dipukul mundur oleh pasukan Kerajaan Mataram dalam sebuah pertempuran hebat.

Joko Tingkir sakit saat perjalanan pulang, usai pertempuran. Dia meninggal dunia dan berwasiat supaya anak-anaknya tidak ada yang balas dendam dengan Panembahan Senopati. Sayangnya, Babad Tanah Jawi tidak menceritakan secara detail perihal peperangan kedua kerajaan tersebut.

Dewi Angin-angin, bangsa gaib yang menghuni di atas Pantai Selatan sebagai peniup angin sehingga menciptakan gulungan ombak besar di Laut Selatan bercerita tentang alasan kemenangan Panembahan Senopati melawan Joko Tingkir. Cerita itu terungkap dalam sebuah wawancara dengan Tim Liputan Dua Dunia Trans 7 ketika melakukan mediumisasi di sana dan ditulis ulang berberita.com untuk dijadikan cerita pendek (cerpen) sejarah berbaur mistis untuk Anda.

Panembahan Senopati vs Joko Tingkir

"Kau tahu? Bagaimana berdirinya Kerajaan Mataram di sini? Sutowijoyo diutus oleh Sultan Hadi Wijaya agar dia bisa memimpin dan mendirikan sebuah kerajaan di sini. Ketika Kerajaan Mataram berkembang pesat, Joko Tingkir mengundang Raja Sutawijaya untuk datang. Tapi, Panembahan Senopati tidak mau menerima undangan itu," kata Dewi Angin-angin.

"Bagaimana Sultan Hadiwijaya tidak merasa tersinggung? Sultan Hadiwijoyo berniat untuk menghancurkan Panembahan Senopati. Ternyata Panembahan Senopati mencari kekuatan, berdiam diri di tempat ini (Kali Mati, kawasan Pantai Selatan Yogyakarta). Maka, di situlah adanya perjanjian antara Panembahan Senopati dan Raja Naga Selatan (Nyi Roro Kidul/Ratu Pantai Selatan) dimulai," tutur Dewi Angin-angin.

"Kesetiaan dan cinta kasih. Panembahan Senopati dan keturunannya harus mau menikahi Ratu Laut Selatan jika ingin tenteram dan damai, ayem, makmur, dan nyaman. Jika bertemu, maka Ratu Pantai Selatan berubah menjadi cantik dan selalu memakai warna hijau. Di situlah Panembahan Senopati memutuskan, siapapun yang hadir dan datang ke tepi pantai Selatan tidak boleh menggunakan warna hijau," imbuh Dewi Angin-angin.

Kisah lain menyebutkan, Joko Tingkir mengalah dengan Panembahan Senopati karena sudah mengetahui saatnya dia lengser keprabon. Sudah saatnya dia dan kerajaannya runtuh, karena akan ada peradaban baru di mana kebesaran Tanah Jawa akan habis, zaman di mana suatu penderitaan dan kesusahan terjadi.

Dalam pertempuran yang hebat, Joko Tingkir berada di atas kendaraan gajah dan mengamati dari jauh, mengomando patih dan senopati, komandan perang, dll. Kemudian, dia didatangi para leluhurnya, raja-raja penguasa Singasari dan Majapahit seperti Sri Rajasa Kertanegara, Raden Wijaya, Tribhuana Tunggadewi, dan para pembesar-pembesar masa lalu.

Ratu Tribhuwana Tunggadewi berpesan kepada Joko Tingkir untuk tidak melanjutkan ambisi menjadi penguasa Tanah Jawa. Sebab, masa generasi penerus Kerajaan Singasari dan Majapahit sudah habis. Cukup Joko Tingkir sebagai penerus mereka sebagai akhir atau pamungkas dari Raja-raja Singosari dan Majapahit.

Panembahan Senopati bukanlah pengganti atau penerus Joko Tingkir. Dia dan kerajaannya, Mataram hanya bersifat transisi, sebelum Tanah Jawa masuk zaman baru, jaman kesusahan dan penderitaan. Tidak ada raja satupun yang bisa melindungi kerusakan Tanah Jawa.

Panji-panji kebesaran Tanah Jawa tidak lagi dikibarkan dan kebanggaan sebagai orang Jawa tidak lagi ada. Namun, Tanah Jawa suatu saat tiba masanya untuk bangkit kembali. Jawa akan dipimpin raja-raja dari keturunan Ratu Tribhuwana Tunggadewi, yaitu Majapahit.

Setelah ada pesan gaib dari para raja pendahulunya, Joko Tingkir kemudian berbelok arah dan kembali ke Pajang. Sedangkan para prajurinya yang sudah kehilangan komando sejak Joko Tingkir mendapatkan wangsit dari roh leluhurnya, mulai kocar-kacir, kalang kabut. Sejak itulah, Joko Tingkir beberapa kali jatuh pingsan dan tidak sadar.

Hingga ketika wafat, Sultan Hadiwijaya ini berpesan kepada anak cucunya supaya tidak memperebutkan kekuasaan lagi. Joko Tingkir pun meninggal dunia bersamaan dengan menghilangnya Keris Kyai Sengkelat yang menjadi pusaka andalannya.

Itulah sekelumit kisah pertarungan Panembahan Senopati vs Joko Tingkir yang terungkap oleh cerita tutur, baik manusia maupun jin (makhluk gaib). Namun, cerpen ini tidak bisa disebut sebagai sebuah fakta sejarah, karena tidak berdasarkan literasi, teks, atau manuskrip.

0 Response to "Kisah Pertarungan Panembahan Senopati vs Joko Tingkir Terungkap"

Poskan Komentar