Filosofi & Falsafah Orang Jawa tentang Kehidupan dan Artinya

Filosofi atau Falsafah Orang Jawa tentang kehidupan sebetulnya hampir sama dengan falsafah dalam Islam atau agama lainnya. Hanya saja, jalan yang ditempuh berbeda. Tujuan akhirnya adalah Tuhan atau Allah Swt.

Nasehat Eyang, Simbah atau leluhur Jawa yang kemudian boleh disebut dengan Jalan Kebijaksanaan (The Path to Wisdom), secara sistematis digambarkan dalam sebuah proses mendengar, tahu, mengerti, bisa, benar, ada buktinya, adil, bijaksana, tajam penglihatannya, masuk surga, bertemu gusti Allah.

Kita mendengar belum tentu tahu. Kalau sudah tahu, belum tentu mengerti. Kalau sudah mengerti, belum tentu bisa. Kalau sudah bisa, belum tentu benar. Kalau sudah benar, belum tentu ada buktinya. Kalau sudah ada buktinya, belum tentu adil.

Filosofi Falsafah Orang Jawa tentang Kehidupan dan Artinya

Kalau sudah adil, belum tentu bijaksana. Kalau sudah bijaksana, belum tentu waskita (tajam hati dan penglihatannya), kalau sudah waskita belum tentu masuk surga, kalau sudah masuk surga belum tentu bertemu dengan Gusti Allah.

Dalam tataran falsafah Jawa, bertemu dengan Allah jauh lebih sempurna dan mulia daripada sekadar masuk surga. Ajaran filosofi ini sebetulnya acapkali diajarkan oleh para sufi kepada pengikutnya. Berbeda dengan kalangan pengajar syariat yang biasanya masih berada pada tataran surga sebagai puncak keindahan kehidupan.

Padahal, ada yang jauh lebih utama dan tertinggi daripada sekedar surga, yaitu perjumpaan, pertemuan manusia kepada Tuhannya. Itulah hakikat dari sebuah hidup di dunia supaya selalu mempertajam proses dari krungu, weruh, ngerti, bisa, bener, temanja, adil, wicaksana, waskita, mlebu swarga, dan ketemu Gusti Allah.

Dan artinya, filosofi Orang Jawa tentang Kehidupan merujuk atau lebih dekat pada ajaran sufistik dalam Islam. Itu sebabnya, doa umat Muslim kepada sesama yang meninggal dunia adalah innalillahi wainnailaihi rojiun.

Artinya: "Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada Allah kami kembali." Kembalinya manusia sebagai hamba kepada Tuhannya menjadi puncak keindahan dan tujuan dari kehidupan manusia. Dalam falsafah Jawa juga dikenal dengan sangkan paraning dumadi atau Syekh Siti Jenar menyebutnya, manunggal ing kawula lan gusti.

Maka, manusia diberikan kesempatan untuk berbuat baik kepada sesama makhluk dan mengelola dengan baik bumi. Jika tugas di bumi itu sudah paripurna, maka perjumpaan dengan Allah sungguh menjadi impian yang tiada tara bagi setiap umat manusia. (*)

0 Response to "Filosofi & Falsafah Orang Jawa tentang Kehidupan dan Artinya"

Poskan Komentar