Kisah Misteri Soekarno dan Ratu Pantai Selatan Nyi Roro Kidul

Kisah misteri Soekarno dan Ratu Pantai Selatan Nyi Roro Kidul sudah bukan menjadi rahasia lagi, tetapi sudah menjadi perbincangan publik. Bahkan, banyak buku dan artikel ilmiah bergenre sejarah yang membahas hubungan Presiden RI pertama Bung Karo dan penguasa laut selatan.

Kisah itu pernah diceritakan seorang penulis asal Amerika bernama Isaac Asimov. Ia menceritakan sebuah pengalaman menginap di hotel yang berlokasi di Pelabuhan Ratu, Jawa Barat yang menyediakan kamar atau room khusus untuk Nyi Roro Kidul sebagai dewi penguasa laut selatan.

Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, terutama sejak zaman Danang Sutawijaya bergelar Panembahan Senopati mendirikan Kerajaan Mataram, mitos Ratu Kidul betul-betul hidup dan diyakini bahwa setiap raja Jawa adalah suami Nyi Roro Kidul.

Banyak kisah menceritakan, perkawinan terjadi karena ada kesepakatan antara Panembahan Senopati dan penguasa pantai selatan, sebelum mendirikan kerajaan Mataram. Keyakinan itu dipegang hingga generasi berikutnya, dari Sinuhun Pakubuwono XIII sejak tahun 2004 dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat hingga Sri Mangkunegaran IX sejak 1987 dari Pura Mangkunegaran.

Kisah Misteri Soekarno dan Ratu Pantai Selatan Nyi Roro Kidul
Presiden Soekarno, Soeharto dan Joko Widodo (Jokowi) diilustrasikan dengan Ratu Kidul

Bahkan, ketika seorang laki-laki yang berjuang untuk kemerdekaan bangsa Indonesia bernama Soekarno akhirnya mendapatkan wahyu keprabon dan naik tahta menjadi raja bukan hanya Jawa tapi Nusantara-Indonesia, mitos hubungan Bung Karno dan Nyai Ratu Kidul muncul dan diyakini menjadi sebuah kebenaran.

Bung Karno santer dikabarkan kawin atau menikah secara gaib dengan Ratu Laut Selatan untuk mendukung kekuasaan dan menata Indonesia, sebagaimana Panembahan Senopati saat mendirikan Kerajaan Mataram saat itu. Menikah yang dimaksud bukan arti sesungguhnya, tetapi menjadi simbol tersirat bahwa Soekarno punya "hubungan" dengan Nyi Roro Kidul untuk melanggengkan kekuasaan.

Dalam buku Dunia Batin 2 Macan Asia, kawin disimbolkan sebagai upaya Soekarno memperkuat bangsa Indonesia dari segi maritim atau laut. Hal itu terbukti ketika zaman Majapahit, Nusantara menjadi negara adidaya karena memusatkan kekuatan utama pada laut.

Ingin kembali sukses mengulang kebesaran Nusantara masa lalu, Nusantara mencoba mengadopsi sistem kemaritiman Majapahit dengan "kawin" atau "menikah" dengan lautan. Artinya, manusia Indonesia mesti menyadari bahwa mereka hidup di negara maritim yang besar, sehingga harus berkolaborasi dengan laut bila ingin jaya.

Di luar upaya rasionalisasi mitos dan legenda Bung Karno dan Ratu Pantai Selatan dengan banyaknya tafsir, cerita dan kisah Sang Putra Fajar menikah dengan Nyi Roro Kidul begitu melekat hingga hampir-hampir saja diyakini menjadi sebuah kebenaran sejarah. Sebuah hotel dengan kamar khusus di Pelabuhan Ratu menjadi saksi bisu pertemuan keduanya.

Misteri Nyai Blorong
Dalam buku Dunia Batin Dua Macan Asia (2014), Berberita.com mengutip bahwa suatu ketika Sang Putra Fajar bermimpi seekor ular naga raksasa yang ikut dengannya.

Naga itu mengaku dengan nama Sanca Manik Kali Penyu. Dalam keterangannya, Naga juga mengaku ditinggalkan di bukit Gorong yang berlokasi di kepulauan Ibu Ratu Nyi Blorong.

Bung Karno gelisah dengan mimpi itu dan segera dikonsultasikan kepada KH Rifai. Kiai Rifai kemudian memberikan Soekarno amalan dan doa hingga akhirnya berangkat ke bukit Gorong untuk melakukan ritual mistik dan laku spiritual.

Melalui laku spiritual bertapa tersebut, Bung Karno didatangi sesosok wanita cantik yang mengaku sebagai Nyi Blorong dan berkata, "Andika. Derajatmu wis tibo ning ngarep, siap nampi mahkota loro, lan iki mung Ibu iso menehi bibit kajembaran soko negara derajat kang manfaati soko derajatmu ugo wibowo dan rejekimu, serto asih penanggihan."

Artinya, "Anakku, derajatmu sudah saatnya di depan mata, siap menerima dua mahkota. Ini ibu hanya bisa memberi sebuah mustika yang bermanfaat untuk derajat dan kewibawaan, rezeki, dan pengasihan."

Konon, dua mahkota itu melambangkan satu sebagai penguasa umat manusia di Nusantara dan satu lagi melambangkan sebagai penguasa bangsa gaib. Nyi Blorong kemudian memberikan paku bumi sebagai jelmaan Naga Raksasa Sanca Manik dan di dalam mulutnya terdapat dua buah batu delima merah putih kristal.

Konon pula, warna merah batu delima itu menginspirasi Bung Karno menjadikan sebagai warna bendera Indonesia. Buku Dunia Batin 2 Macan Asia juga menyebut, Soekarno juga pernah didatangi Kanjeng Sunan Kalijaga dan Ibu Ratu Kidul dan memintanya untuk pergi ke bukit tinggi Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat.

Sampai saat ini, kisah misteri Soekarno dan Ratu Pantai Selatan Nyi Roro Kidul masih menjadi perdebatan antara cerita mitos tutur yang berkembang di masyarakat atau fakta sejarah. (*)

0 Response to "Kisah Misteri Soekarno dan Ratu Pantai Selatan Nyi Roro Kidul"

Poskan Komentar