Kisah Nyata Penderita HIV AIDS yang Bunuh Diri [sedih]

Berberita.com - Kisah nyata penderita HIV AIDS yang bunuh diri ini adalah cerita sedih yang diambil dari penuturan narasumber yang enggan disebut namanya. Tujuan penerbitan cerita pendek (cerpen) ini bukan untuk menegasikan apalagi memojokkan orang dengan HIV/AIDS (ODHA), tetapi agar bisa dihindari sebelum Anda terjangkit penyakit mematikan ini.

Baru-baru ini, seorang pria berusia 38 tahun ditemukan gantung diri menggunakan tali tambang plastik di blandar rumah bagian tengah. Sontak, warga setempat heboh dan gempar menyaksikan aksi nekat pria yang diketahui sudah memiliki istri dan anak tersebut.

Tak perlu disebut nama asli dan alamat atau daerahnya mana. Yang jelas, ini terjadi di salah satu daerah di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Sebut saja Michael (nama tidak sebenarnya).

Saat itu, Michael pergi ke rumah ibunya meninggalkan rumahnya sendiri. Istri dan anaknya pun ditinggal di rumah. Tak ada firasat apapun, sang ibu Michael pamit untuk pergi ke rumah anaknya yang satu lagi.

Setelah dirasa cukup, sang ibu yang sudah cukup renta itu akhirnya pulang ke rumah. Namun, tiba-tiba saja semua pintu terkunci dari dalam. Sang ibu pun meminta tolong kepada tetangga untuk ikut mendobrak salah satu pintu.

foto ilustrasi gantung diri karena penyakit hiv adis

Sang ibu kaget bukan kepalang, setelah melihat anaknya yang belum genap berusia 40 itu tewas mengenaskan dengan gantung diri pada blandar bagian tengah rumah. Lidahnya menjulur sekitar 2 cm.

Polisi dan tim medis pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) setempat dengan cekatan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan visum.

Setelah polisi dan tim medis menyatakan jika Michael mati karena murni bunuh diri, jenazah kemudian disemayamkan. Ada yang ganjal dari kematian Michael. Dulu, badannya gagah dan gempal. Namun, dalam beberapa tahun tiba-tiba badannya kurus.

Keluarga menutup-nutupi bahwa Michael terkena penyakit diabetes melitus. Namun, ternyata Michael mengidap penyakit HIV AIDS. Ini berhasil dibongkar tim medis yang melakukan visum.

Dalam sebuah cerita, sebetulnya Michael tidak ingin istri dan anak kedua yang dilahirkannya itu terkena dan tertular HIV yang ia derita. Michael yang menjadi sosok suami yang bertanggung jawab itu akhirnya frustasi dan tidak punya lagi pilihan.

Jika ia hidup, maka hidupnya pun tidak akan lama seiring sistem kekebalan tubuh atau imunitas yang semakin melemah. Jika ia hidup, ia tidak tega jika istri dan anak-anaknya tertular penyakit ganas itu. Cukuplah dia yang terkena HIV, jangan istri dan anaknya

Padahal, dia punya rumah, istri dan anak yang harus ia bina. Bagaimana ia bisa membina rumah tangga, kalau dia tidak bisa berhubungan suami istri di atas ranjang, karena takut isterinya tertular penyakit HIV.

Semua kekhawatiran dan kecemasan menjadi satu dalam pikiran Michael. Ia tidak lagi bisa membendung beban derita hidup yang ia hadapi. Di saat putus asa itu berada pada puncaknya, akhirnya ia memilih untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri.

Kesedihan pun melanda wajah istri dan anaknya. Mereka tidak tahu jika suaminya itu rela mati dan berkorban agar istri dan anak-anaknya kelak tidak tertular penyakit HIV AIDS.

Namun, hal itu mestinya tidak dibenarkan. Dalam ajaran agama manapun, baik Islam atau agama lainnya, bunuh diri itu tidak dibenarkan. Mestinya, mereka ikut bergabung dalam komunitas ODHA dan mencurahkan segala keluh kesah kepada mereka.

Semoga cerita dan kisah nyata tentang penderita HIV AIDS yang bunuh diri dengan gantung diri ini bisa menjadi pembelajaran dan hikmah untuk diambil manfaatnya, bukan diambil dari sisi negatifnya. Tinggalkan perilaku yang bisa menyebabkan HIV dan jangan jauhi ODHA! (*)

1 Response to "Kisah Nyata Penderita HIV AIDS yang Bunuh Diri [sedih]"