Ini Cerita Saya sebagai Wanita Salon Plus plus

Berberita.com - Perkenalkan. Nama saya Bunga Mawar. Jangan tanya asal saya dari mana. Yang jelas, saya akan berkisah tentang cerita saya sebagai wanita salon plus plus. Ini kisah nyata.

Saya bekerja di salah satu salon and spa yang menawarkan jasa plus. Ada sekitar sembilan capster di sana. Tempatnya agak mewah seperti salon profesional.

Namun, tempatnya tidak sebaik jasa yang diberikan. Kami bersembilan sebagai pekerja salon samasekali tidak punya keterampilan di bidang kecantikan, perawatan tubuh, apalagi spa.

Sebelum melamar kerja, saya hanya ditanya sama si bos: "Kamu mau apa tidak memberikan jasa plus kepada pelanggan salon?" Saya jawab iya. Saya terpaksa.

ilustrasi foto gambar wanita salon plus
Saya lulusan SMP. Negara ini tidak memberikan kesempatan bagi lulusan menengah pertama untuk bekerja, baik di instansi pemerintahan maupun swasta. Banyak perusahaan yang membuka lowongan kerja, tapi syaratnya minimal SMA atau sederajat.

Padahal, suami saya juga tidak bekerja. Ini pilihan sulit, tapi bagaimana lagi. Suami pun mengizinkan saya bekerja di salon plus-plus. Dia sempat bilang: "Boleh kasih layanan plus, tapi jangan sampai bermain gituan."

Semua pelanggan yang datang untuk perawatan tubuh dan pijat plus, rata-rata dari semua kalangan, baik muda hingga tua. Ada yang baik, ada yang kurang ajar, ada juga yang merendahkan martabat sebagai seorang perempuan.

Tapi, mau apa? Saya diminta oleh si bos untuk melayani pelanggan dengan baik. Kami capster bersembilan sebetulnya tidak punya keahlian di bidang salon. Hampir semua peralatan salon juga nganggur, karena hampir semua yang datang untuk pijat plus.

Pekerjaan ini sudah cukup lama saya tekuni untuk membiayani anak sekolah dan menambah kebutuhan hidup yang tidak bisa dicukupi suami. Setiap hari pula, saya harus memijat laki-laki tanpa busana.

Sebagian besar, itunya laki-laki minta digitukan pake tangan saya atau digitukan seperti kalau menikmati ice cream. Setiap hari pula, saya ketemu dan melihat itunya pria.

Kadang, muncul perasaan malas bercumbu dengan suami. Soalnya, hampir setiap hari melihat itunya pria, mulai dari yang kecil, pendek, besar dan panjang.

Hubungan rumah tangga saya tidak seindah dulu. Ada perasaan gelap yang menyelimuti hati saya. Hati kecil saya bilang, jangan lanjutkan pekerjaan itu lagi. Dosa dan merusak!

Lagi-lagi, pekerjaan yang sangat mudah bagi saya, ya begini. Hanya berbekal dandan secantik-cantiknya, semenor-menornya, seksi biar pria yang datang ke salon plus2 memilih saya di antara sembilan capster yang ada.

Pelanggan yang ingin pijat ditarif harga mulai dari Rp 150 ribu hingga Rp 300 ribu, tergantung bagaimana keinginan pelanggan. Bosan, jenuh dan memuakkan. Tapi, bagaimana lagi: Ini risiko susahnya cari perkerjaan bagi lulusan SMP!

Hampir setiap hari tubuhku diraba, dicium, dipeluk layaknya suami. Risih sebetulnya. Hati kecil memang tidak bisa dibohongi. Rasanya gelap dan penuh dosa. Astagfirullah.

Kamu, hai saudara perempuanku. Jangan sampai kamu seperti aku. Cukup aku yang menjalani kisah ini. Aku pun akan segera berhenti sebagai wanita salon plus.

Aku akan mengumpulkan modal sebanyak-banyaknya untuk membuka usaha bersama suamiku. Aku ingin mencari rezeki halal. Kalaupun Tuhan memberi kesempatan, aku ingin buka salon perawatan tubuh dan spa yang benar-benar untuk kesehatan dan kecantikan, bukan plus2!

BACA JUGA: Ini Cerita Nyata Saya sebagai Perempuan Penghibur Pria Tengah Malam

Ini cerita nyata saya sebagai wanita salon plus plus. Jangan sampai kamu meniru. Kumohon. Selamatkan harkat dan martabatmu sebagai perempuan terhormat. Selamatkan generasi anak-anakmu sebagai orang sukses yang bisa menyelamatkan dan merawatmu dunia akhirat. Terima kasih.

0 Response to "Ini Cerita Saya sebagai Wanita Salon Plus plus"

Poskan Komentar